Judul Buku :
Telepon dengan Tuhan
Pengarang :
Faizatul Ulya
Penerbit : UKM
Penulis Publishing 2013
Tahun Terbit : 2013
Cetakan pertama : September
2013
Faizatul Ulya merupakan mahasiswi Pendidikan Geografi
Universitas Negeri Malang 2012 yang bermimpi menjadi astronot, menapak langit,
dan berkeliling dunia. Hobi memotret, dan dipotret, bernyanyi meski suara
pas-pasan, dan berimajinasi meski inspirasi tak kunjung datang.
Buku dimulai dengan cerita “Gara-Gara Penyakit Anton”,
membuat saya berpikir penyakit apa yang dimaksud dan yang tergambarkan di
pikiran saya adalah penyakit kanker atau sejenisnya. Tapi ternyata penyakit
yang dimaksud adalah kebandelan Anton semasa sekolah. Mulai dari tidak
menghafal nama gurunya dan tidak pernah absen dari daftar hitam keterlambatan.
Hal-hal ini mengakibatkan Anton bingung saat Sherina “idolan Anton” datang
mengisi acara di sekolahnya dan Sherina bertanya mengenai istri dari kepala
sekolanya.
Lanjut ke cerita “Dokumen 1 Aprilku”, merupakan
penyesalan tokoh “aku”. Menyesal karena dulu menertawakan suatu keadaan dan
kini dia sendiri yang mengalami keadaan tersebut. Dan kini tokoh “aku” harus
pusing dengan keadaannya saat ini.
Puisi “Antara Jejak” menceritakan kerinduan tokoh “aku”
terhadap tokoh “kamu”.
Kemudian kita disambut dengan cerita “Kelabu”, diceritakan
di sebuah desa. Dimana ada sebuah rumah bergaya Belanda yang dihuni oleh
seorang ibu tua dan seorang anak laki-laki gendut. Dan kini ibu itu telah
meninggal dunia. Disini juga diceritakan sejarah tentang rumah bergaya Belanda
itu.
“Telepon dengan Tuhan” merupakan sebuah penyesalan
karena mengabaikan Tuhan. Lebih mementingkan dunia daripada Tuhan. Banyak hal
yang berhubungan dengan Tuhan telah dilalaikan. Dan saatnya sekarang menunggu
Tuhan mengangkat telepon.
“Tarian Santi” merupakan cerita dari sebuh keluarga
dimana Ayahnya pengangguran setelah PHK dan ibunya menjadi penari dari kamar ke
kamar. Hampir setiap malam Ayah dan Ibunya bertengkar, sedangkan putrinya,
Santi hanya bisa menangis. Setelah dewasa dia juga menjadi penari tapi bukan
penari seperti Ibunya dahulu.
“Senandung Melarat” menggambarkan arti kesendirian
sebagai sesuatu yang menyenangkan, kebahagiaan, kedamaian. Karena banyak hal
yang terjadi sehingga kesendirian dimaknai seperti itu.
“Menjemput Luka” adalah puisi yang menceritakan suatu
kebimbangan yang beujung sakit hati. Sesuatu yang tidak bisa dikaitkan karena
kebimbangan.
“Senja itu di Lautan Mesin” menceritakan seorang ibu
yang tidak pernah memberikan uang kepada anaknya jika uang itu untuk dibelikan
hal yang tidak penting. Saat ulang tahun pun begitu. Hingga suatu hari, sang
anak memakai uangnya untuk bersenang-senang. Di perjalanan pulang, sang anak
tersadar bahwa perbuatannya salah. Mengapa hal itu terjadi, dapat anda temukan
ketika anda membaca.
“Aku Bukan Jin!” adalah cerita dengan genre berbeda.
Disini diceritakan di sebuah pondok pesantren saat adzan berkumandang. Dimana
semua harus melakukan sholat berjamaah. Sampai iqomah mulai dikumandangkan Shul
dan Mutiah masih sibuk dengan uang yang akan disetorkan. Shul dan Mutiah
bergegas ke masjid. Mengingat uang berserakan, alhasil ada An-Na’im Piit dan
Kinan diminta untuk menjaga ruang itu dan pintu tidak boleh dibuka. Alasannya
karena ada jin. Saat Ermaya, ketua keamanan datang, pesan yang sama juga disampaikan
ke Ermaya bahwa pintu tidak boleh dibuka karena ada jin.
Sesaat kemudian, Iyum yang sebenarnya ikut sholat
berjamaah tapi karena ada panggilan khusus sehingga dia pergi ke toilet dan
keluar dengan bedak tebal. Dan mereka pun berteriak jinnya keluar !. tapi Iyum
hanya bisa berkata “Aku bukan jin”.
“Bukan” merupakan puisi yang bercerita mengenai
ketidakmauan tokoh “aku” terhadap sesuatu yang bermuka dua. Tokoh “aku” tidak
menghendaki adanya sandiwara. Tokoh “aku” hanya ingin sesuatu menjadi sesuatu,
bukan yang lain.
“Dan”. Disini tokoh “aku” meminta seseorang untuk
mengajarkan arti dari kata cinta.
“Ruang Tunggu” adalah sebuah puisi tentang menunggu
seseorang dengan segala hal dan usaha untuk tetap menunggu serta berpikir bahwa
menunggu adalah hal menyenangkan. Tapi pada akhirnya, yang ditunggu telah lama
pergi.
Kekurangan dari buku ini adalah adanya beberapa bagian
yang tidak tergambar dengan jelas, seperti pada cerita “Aku bukan Jin”. Latar
tidak tergambar dengan cukup jelas. Tokoh pun demikian.
Dan ada satu kata yang salah cetak tepatnya di cerita
“kelabu”, tapi ini bukan kesalahan penulis melainkan kesalahan editor. Karena
kurang teliti sedikit saja.
Kelebihan dari buku ini adalah cover buku dan judul buku
yang diberikan langsung membuat rasa penasaran pembaca muncul dan tertarik
untuk membaca buku ini lebih lanjut.
Kemudian cerita berbeda pada setiap judul yang diberikan
membuat pembaca terbawa pada latar yang jauh berbeda sebelumnya. Mulai dari
latar suasana yang menyenangkan, menyedihkan, membuat pembaca terharu, jengkel,
lucu dan lainnya. Serta latar tempat yang di perkotaan sampai di pedesaan dan
tempat pada zaman dahulu termuat pada buku ini.
Cerita yang berbeda pada setiap judulnya, akan membuat
kita mendapatkan banyak pelajaran berharga. Karena cerita disajikan secara
sederhana, sehingga untuk memahami buku ini kita tidak membutuhkan waktu lama.
Kata-kata yang digunakan juga sederhana sehingga cocok
untuk semua usia. Seperti yang disebutkan diatas bahwa tidak membutuhkan waktu
lama untuk memahami buku ini. Karena memang kata yang digunakan adalah
kata-kata yang biasa kita gunakan sehari-hari.
Kesimpulannya adalah dengan kelebihan-kelebihan diatas,
buku ini adalah buku yang patut dan wajib untuk dibaca. Tidak terbatas pada
usia tertentu dan kalangan tertentu. Semua orang dapat membaca buku ini. Dan
semua orang juga harus mendapat pelajaran-pelajaran berharga dari buku ini.
Oleh :
Nama : Uriva
Prihantini
NIM : 130311615210
Jurusan : Matematika
Fakultas : MIPA