Sunday, November 24, 2013

Resensi Telepon dengan Tuhan



Judul Buku                  : Telepon dengan Tuhan
Pengarang                   : Faizatul Ulya
Penerbit                       : UKM Penulis Publishing 2013
Tahun Terbit                : 2013
Cetakan pertama         : September 2013
Faizatul Ulya merupakan mahasiswi Pendidikan Geografi Universitas Negeri Malang 2012 yang bermimpi menjadi astronot, menapak langit, dan berkeliling dunia. Hobi memotret, dan dipotret, bernyanyi meski suara pas-pasan, dan berimajinasi meski inspirasi tak kunjung datang.
Buku dimulai dengan cerita “Gara-Gara Penyakit Anton”, membuat saya berpikir penyakit apa yang dimaksud dan yang tergambarkan di pikiran saya adalah penyakit kanker atau sejenisnya. Tapi ternyata penyakit yang dimaksud adalah kebandelan Anton semasa sekolah. Mulai dari tidak menghafal nama gurunya dan tidak pernah absen dari daftar hitam keterlambatan. Hal-hal ini mengakibatkan Anton bingung saat Sherina “idolan Anton” datang mengisi acara di sekolahnya dan Sherina bertanya mengenai istri dari kepala sekolanya.
Lanjut ke cerita “Dokumen 1 Aprilku”, merupakan penyesalan tokoh “aku”. Menyesal karena dulu menertawakan suatu keadaan dan kini dia sendiri yang mengalami keadaan tersebut. Dan kini tokoh “aku” harus pusing dengan keadaannya saat ini.
Puisi “Antara Jejak” menceritakan kerinduan tokoh “aku” terhadap tokoh “kamu”.
Kemudian kita disambut dengan cerita “Kelabu”, diceritakan di sebuah desa. Dimana ada sebuah rumah bergaya Belanda yang dihuni oleh seorang ibu tua dan seorang anak laki-laki gendut. Dan kini ibu itu telah meninggal dunia. Disini juga diceritakan sejarah tentang rumah bergaya Belanda itu.
“Telepon dengan Tuhan” merupakan sebuah penyesalan karena mengabaikan Tuhan. Lebih mementingkan dunia daripada Tuhan. Banyak hal yang berhubungan dengan Tuhan telah dilalaikan. Dan saatnya sekarang menunggu Tuhan mengangkat telepon.
“Tarian Santi” merupakan cerita dari sebuh keluarga dimana Ayahnya pengangguran setelah PHK dan ibunya menjadi penari dari kamar ke kamar. Hampir setiap malam Ayah dan Ibunya bertengkar, sedangkan putrinya, Santi hanya bisa menangis. Setelah dewasa dia juga menjadi penari tapi bukan penari seperti Ibunya dahulu.
“Senandung Melarat” menggambarkan arti kesendirian sebagai sesuatu yang menyenangkan, kebahagiaan, kedamaian. Karena banyak hal yang terjadi sehingga kesendirian dimaknai seperti itu.
“Menjemput Luka” adalah puisi yang menceritakan suatu kebimbangan yang beujung sakit hati. Sesuatu yang tidak bisa dikaitkan karena kebimbangan.
“Senja itu di Lautan Mesin” menceritakan seorang ibu yang tidak pernah memberikan uang kepada anaknya jika uang itu untuk dibelikan hal yang tidak penting. Saat ulang tahun pun begitu. Hingga suatu hari, sang anak memakai uangnya untuk bersenang-senang. Di perjalanan pulang, sang anak tersadar bahwa perbuatannya salah. Mengapa hal itu terjadi, dapat anda temukan ketika anda membaca.
“Aku Bukan Jin!” adalah cerita dengan genre berbeda. Disini diceritakan di sebuah pondok pesantren saat adzan berkumandang. Dimana semua harus melakukan sholat berjamaah. Sampai iqomah mulai dikumandangkan Shul dan Mutiah masih sibuk dengan uang yang akan disetorkan. Shul dan Mutiah bergegas ke masjid. Mengingat uang berserakan, alhasil ada An-Na’im Piit dan Kinan diminta untuk menjaga ruang itu dan pintu tidak boleh dibuka. Alasannya karena ada jin. Saat Ermaya, ketua keamanan datang, pesan yang sama juga disampaikan ke Ermaya bahwa pintu tidak boleh dibuka karena ada jin.
Sesaat kemudian, Iyum yang sebenarnya ikut sholat berjamaah tapi karena ada panggilan khusus sehingga dia pergi ke toilet dan keluar dengan bedak tebal. Dan mereka pun berteriak jinnya keluar !. tapi Iyum hanya bisa berkata “Aku bukan jin”.
“Bukan” merupakan puisi yang bercerita mengenai ketidakmauan tokoh “aku” terhadap sesuatu yang bermuka dua. Tokoh “aku” tidak menghendaki adanya sandiwara. Tokoh “aku” hanya ingin sesuatu menjadi sesuatu, bukan yang lain.
“Dan”. Disini tokoh “aku” meminta seseorang untuk mengajarkan arti dari kata cinta.
“Ruang Tunggu” adalah sebuah puisi tentang menunggu seseorang dengan segala hal dan usaha untuk tetap menunggu serta berpikir bahwa menunggu adalah hal menyenangkan. Tapi pada akhirnya, yang ditunggu telah lama pergi.
Kekurangan dari buku ini adalah adanya beberapa bagian yang tidak tergambar dengan jelas, seperti pada cerita “Aku bukan Jin”. Latar tidak tergambar dengan cukup jelas. Tokoh pun demikian.
Dan ada satu kata yang salah cetak tepatnya di cerita “kelabu”, tapi ini bukan kesalahan penulis melainkan kesalahan editor. Karena kurang teliti sedikit saja.
Kelebihan dari buku ini adalah cover buku dan judul buku yang diberikan langsung membuat rasa penasaran pembaca muncul dan tertarik untuk membaca buku ini lebih lanjut.
Kemudian cerita berbeda pada setiap judul yang diberikan membuat pembaca terbawa pada latar yang jauh berbeda sebelumnya. Mulai dari latar suasana yang menyenangkan, menyedihkan, membuat pembaca terharu, jengkel, lucu dan lainnya. Serta latar tempat yang di perkotaan sampai di pedesaan dan tempat pada zaman dahulu termuat pada buku ini.
Cerita yang berbeda pada setiap judulnya, akan membuat kita mendapatkan banyak pelajaran berharga. Karena cerita disajikan secara sederhana, sehingga untuk memahami buku ini kita tidak membutuhkan waktu lama.
Kata-kata yang digunakan juga sederhana sehingga cocok untuk semua usia. Seperti yang disebutkan diatas bahwa tidak membutuhkan waktu lama untuk memahami buku ini. Karena memang kata yang digunakan adalah kata-kata yang biasa kita gunakan sehari-hari.
Kesimpulannya adalah dengan kelebihan-kelebihan diatas, buku ini adalah buku yang patut dan wajib untuk dibaca. Tidak terbatas pada usia tertentu dan kalangan tertentu. Semua orang dapat membaca buku ini. Dan semua orang juga harus mendapat pelajaran-pelajaran berharga dari buku ini.


Oleh :
Nama               : Uriva Prihantini
NIM                : 130311615210
Jurusan            : Matematika
Fakultas           : MIPA

No comments:

Post a Comment